Ribut LOGO HUT RI, Tanda Indonesia Belum Merdeka


Seperti rutinintas tahunan, Logo HUT RI tahun ini tak lepas jadi sorotan. Kalau dulu logo HUT RI di tuding mirip dengan Simbol Palu Arit, kini Logo HUT RI di tuding mirp dengan Lambang Salib. Tentusaja spekulasi bermunculan soal ini. Ada yang menuding logo ini pesanan dari misionaris, ada juga yang menilai hal biasa yang terjadi hanya kebetulan. Ilmu cucokologipun bermain. Para tokoh berkomentar, media menyambut jadi deh isu ini besar melupakan isu isu lain. Upss tunggu dulu, apakah memang ini pengalihan isu atau memang isu pemanis kemerdekaan?

Memang kalau sudah momentum kemerdekaan seperti ini selalu saja ada kabar sensasional terjadi. Seputar kemerdekaan. Tapi kabar Mumtaz Rais Tiga Kali Ditegur Awak Garuda karena Pakai Handphone di Pesawat, dan kabar Jessica Mila Idap Skoliosis yang lagi viral hari ini bukan kabar kemerdekaan ya?…heh

Oke kembali ke topik kita, Soal Logo HUT RI yang dipersoalkan. Tidak tau siapa yang memulai, tapi itulah negeri kita Indonesia Raya ini Semua semua bisa jadi viral dan heboh. Hal receh bisa ribut se negara, hal serius bisa didiamkan se negara. Sekarang tergantung tokoh yang berkomentar dan media yang menggiring.

Tapi soal tudingan tudingan Logo HUT RI ini memang tidak boleh di sepelekan. Bukan soal benar atau salah tudingan itu, tapi model tudingan itu berutal Ideologis dan tentu saja bisa jadi menyakitkan hati. Sebelumnya misalnya, tudingan Palu Arit tentu saja ini Stigmatisasi pada PKI, atau tudingan Salib Stigmatisasi pro kepada satu agama yakni Kristen/Nasrani. Kan ini bagi pemerintah RI menyakitkan hati karena di tuding tuding tidak mengayomi banyak agama. Pantas sajalah Mensesneg mendengar isu itulangsung mengklarifikasi.

Memang, Pemerintahan Jokowi diakui atau tidak kini sedang distigma oleh oposisi sebagai pemimpin yang jauh dari keberpihakan pada Islam. Bahkan disebut sebagai Presiden anti Islam. Tidak sedikit mereka yang mengasosiasikan, bahkan bisa kita sebut banyak sekali. Mereka bukan dari kalangan partai politik yang relatif pragmatis, tapi mereka lahir dari tengah tengah masyarakat.

Hal ini bukan tanpa alasan, alasan utamanya ya seperti bak bergayung sambut. Bahwa Pemerintahaan Jokowi sering menuding menyoal radikalisme dan menstigmakan orang orang yang berhaluan beda dengannya dengan cap cap tertentu ya, wajar saja mereka yang  tertuduh akhirnya mengasosiasikan pemerintahaan Jokowi dengan cap cap tertentu juga.

****
Kita teringat dulu, ketika Belanda masih berkuasa di negeri ini, mereka menyebut setiap orang atau kelompok orang yang menentang kekuasaannya dengan: inlander, ekstrimis. Stigma atau cap ini bukan tanpa tujuan. Maka jadilah Jenderal Sudirman, Pangeran Dipenogoro, Pattimura sebagai orang penyandang gelar inlander dan ekstrimis itu.

Baca Juga : Perang, Nasionalisme Dan Kita

Stigma ini untuk mengenali secara cepat kelompok orang secara negatif. Karena sifatnya yang negatif, maka ia akan dengan cepat dipahami sebagai the common enemy (musuh bersama). Dalam tataran public opinion inilah yang disebut dengan propaganda negatif yang sangat khas kaum kapitalis. Ini cara menyerang lawan dengan cap jelek. Sejauh ini cara tersebut memang terbukti ampuh—meski nyata-nyata menyampingkan moral.

Sama halnya pasca peristiwa runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) di New York, sejak saat itu ada stigma baru: teroris. Stigma yang dipopulerkan George Bush.Jr ini dialamatkan kepada semua musuh ideologis mereka. Tujuannya adalah menempeli musuh mereka dengan julukan negatif. Maka tidak heran, ada cacat bawaan dalam definisinya. “Kalau kekerasan dilakukan negara itu bukan teroris namanya,” kata seorang Jenderal yang jadi perpanjangmulut kaum penjajah—ini defenisi yang sak karape dhewe namanya.

Negeri penjajah? Ya tentu saja. Karena sejak bergemanya penjajahan dari daratan Eropa ke seluruh penjuru dunia, stigma adalah senjata ampuh yang kerap digunakan. Dia telah terbukti ikut melanggengkan penjajahan hingga ratusan tahun, lagi-lagi dia bersubhat dengan kamuflase, membuat sesuatu yang baik seolah jahat, sebaliknya, membuat yang buruk seolah kebaikan.

Ini juga yang tengah dilakukan dalam penjajahan bentuk baru di alam kontemporer. Anda mungkin sering mendengar istilah: kelompok konservatif, kelompok moralis, kelompok tradisional, radikalis dan sejenisnya. Ini adalah stigma yang sengaja ditempelkan kepada orang-orang yang berseberangan secara ideologi dengan kaum penjajah.

Saya tidak ingin menuduh siapa yang memulai, tapi penjajah itu sebenarnya bisa saja ada di tengah tengah masyarakat yang melebur dengan masyarakat mengambil hati masyarakat agar dapat mengekspolitasi kepemilikan masyarakat.

Indonesia memang sudah merdeka secara fisik, tapi dengan adanya polarisasi rakyat dan hubungannya juga dengan pemerintah tidak harmonis itu pertanda ada penjajah diantara mereka, namun mereka tidak mengetahuinya.





Source link

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*